Senin, 21 August 2017

Bahasa Nasional Mulai Luntur, Bahasa Daerah Hilang

Bahasa Asing Malah Lebih Dibanggakan Remaja


# jack, medan

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara, Muhri Fauzi Hafiz, merasa sangat prihatian atas kecenderungan masyarakat menggunakan bahasa Inggris ketimbang bahasa daerah (bahasa leluhur) dan bahasa Indonesia.

“Orang sekarang ‘kan lebih bangga dengan bahasa Inggris ketimbang bahasa leluhur dan daerahnya, sehingga melunturkan bahasa Indonesia,” katanya, Minggu (13/8/2017) di Medan.

Politikus Partai Demokrat itu menjelaskan bahwa kondisi itu terjadi karena kian derasnya arus globalisasi yang ternyata tidak diiringi dengan filter yang kuat di dalam fondasi pendidikan dan budaya.

Menurut dia, arah pendidikan nasional yang cenderung lebih mengutamakan peran bahasa asing juga sudah agak melenceng dari cita-cita bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar.

“Tidak heran, sekarang ini banyak generasi muda yang tidak bisa bahasa daerahnya, seperti di Sumatera Utara ini banyak ragam bahasa karena keberagaman suku, namun tetap beresam melayu sebagai dasar bahasa Indonesia. Seperti bahasa Melayu di Langkat dan tanah Deli para remaja sudah luntur bahasa Melayunya, begitu juga resam budayanya,” katanya.

Anggota DPRD dari Dapil Sumut XII (Dapil Binjai – Langkat) ini merasakan bahwa arus globalisasi yang besar menggerus budaya-budaya bangsa yang luhur, termasuk hadirnya media sosial.

Sebenarnya, lanjutnya, kondisi tersebut sudah dirasakan sejak Orde Reformasi yang mulai membuat berubahnya ciri dan perilaku masyarakat Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Persoalannya, kata dia, keterbukaan informasi seiring reformasi ternyata tidak diimbangi dengan kesiapan masyarakat yang tidak bisa memilih mana yang sesuai atau tidak dengan karakter dan budaya bangsa.

“Masanya saat ini memanfaatkan motivasi HUT Kemerdekaan RI ke 72 ini sebagai pekerjaan rumah (PR) semua elemen bangsa, tidak hanya guru dan pemerintah. Namun keluarga, masyarakat, dan lingkungan sebenarnya yang paling berperan memupuk rasa kebangsaan dan karakter bangsa,” katanya.

Dimulai dari entitas sosial terkecil, yakni keluarga, lanjutnya, peran orang tua dalam mengawasi perilaku anak-anaknya, seperti berpakaian, berkomunikasi, dan menyalurkan hobinya.

“Pendidikan karakter itu ‘kan dimulai dari keluarga. Bagaimana memupuk rasa kebangsaan Indonesia dengan keragaman bahasa, suku, budaya, dan seni sosial masyarakatnya,” ujar Muhri mengakhiri dengan penuh harap. ***