Kamis, 15 November 2018

Umat Hindu di Medan Rayakan Depavali 5120 KY


#fey, medan
Ribuan warga Kota Medan dan sekitarnya merayakan Depavali 5120 Kali Yuga (KY)/2018, Selasa (6/11/2018).

Menurut Penyuluh Agama Hindu non ASN, Matha Riswan SPd, Depavali disebut juga Diwali dirayakan pada Oktober hingga November setiap tahun. Dijelaskannya, pada dasarnya, ini adalah tiga Hari Perayaan. Deepavali atau Diwali, dikenal sebagai Festival Cahaya adalah Hari Raya yang dirayakan umat Hindu warga india. “Tahun ini hari suci atau Hari Kemenangan Dharma melawan A Dharma jatuh pada hari Selasa, 6 Nopember bagi umat masyarakat India Selatan dan hari Rabu, 7 Nopember, bagi umat masyarakat India Utara,” paparnya di Medan.

Ia mengemukakan, Hari Suci Depavali ini memiliki banyak versi, diantaranya disebutkan matinya Rahwana sang Raja Raksasa dalam Hikayat Ramayana oleh panah dewa Rama. Kemudian, matinya Narakasura, raja zalim yang menyatakan dirinya Tuhan oleh Sutharsan Chakra Dewa Visnu, serta Kisah Guru Suci Amar Das yang membebaskan 52 raja Hindu dari penjara Emperor Jaheingir. “Banyak umat Hindu bagian utara memulai perayaan ini selama tiga hari dengan diawali perayaan Dhanteras, yang dirayakan pada hari ketiga belas Krishna Paksha/Ammawasai (bulan mati, red) dari kalender Hindu Ashwin,” tuturnya.

Matha Riswan menjelaskan, pada hari pertama Diwali, kerap disebut Hari Keluarga (Dhanteras). Umat Hindu membuat rangolis/kolam digambar dengan bubuk beras yang diberi warna warni untuk menyambut tamu. Disebutkannya, beras itu menjadi makanan para serangga yang berada di sekitar rumah. Tak hanya itu, lampu dengan nyala api berminyak kelapa dijejer di dalam dan di sekitar rumah.

“Diwali berarti 'deretan lampu'. Ini adalah hari terbaik bagi semua orang. Kebanyakan Hari Depawali jatuh pada bulan Gelap atau Ammawasai, sehingga banyak umat menggunakan malam hari raya ini dengan melakukan puja atau doa kepada para leluhur atau orang tua yang sudah tiada,” urainya.

Di hari pertama Diwali, kata Matha Riswan, umat Hindu dianjurkan bangun tidur lebih pagi untuk melaksanakan mandi suci yang sudah disiapkan orangtuanya. Setelah itu, saling bermaafan antara anak dan orang tua sebelum beribadah ke Kuil atau Mandhir. “Usai beribadah, mereka pulang ke rumah untuk bersantap bersama dilanjutkan silaturahmi dengan sanak famili,” ujarnya.

Matha Riswan menambahkan, pada hari kedua (Naraka Charturdasi), saat malam semua rumah menyalakan lampu minyak kelapa yang dihias dengan pola lentera sebagi simbol menyambut Dewi Kemakmuran, yakni Laksmi. Selanjutnya, di hari ketiga umat Hindu melakukan pemujaan terhadap Dewi Kemakmuran, Laksmi (Laksmi Pooja) dengan membagikan manisan, pakaian, dana dan punia lainnya kepada kaum miskin. Disusul pada hari keempat, dinamakan Kartika Shudda Padyami dan hari kelima (Yama Dvitiya). “Pada hari kelima ini, saudara perempuan mengundang saudara-saudara mereka ke rumah mereka,” tukasnya.

Mengenai penggunaan tahun Kali Yuga, Matha Riswan menyatakan, umt Hindu percaya kepada Catur Yuga atau empat zaman, yaitu Kerta Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga dan Kali Yuga. Khusus Kali Yuga, diyakini lahir ketika dilantiknya raja terakhir Kerajaan Astinapura bernama Raja Parikesit, putra Pangeran Abimanyu dan cucunya Arjuna pada tahun 3102 SM. “Kalau kita mengikuti tahun Kali Yuga itu, maka 3102 ditambah 2018, tahun ini umat Hindu merayakan Hari Suci Depavali yang ke 5120 Kali Yuga,” tandasnya. ***