Selasa, 21 November 2017

Paekem Tukang Urut Keliling Butuh Bantuan


#sabar-juntak

Prihatin. Kata ini yang seakan  mengambarkan kondisi Paikem, wanita paruh baya, yang tinggal dalam gubuk berdinding tepas berukuran 2 x 3 meter, di Jalan Sei Bahorok, Gang Keluarga, Lingkungan VII, Kelurahan Pujidadi, Kecamatan Binjai Selatan.

Memasuki usia ke-55 tahun, wanita yang sudah bertahun-tahun hidup sebatang kara tersebut kini hanya terbaring lemah tak berdaya di atas sebuah kasur bekas pijaman tetangganya, tanpa mampu berbuat apapun, meski hanya untuk makan dan minum.

Beruntung dengan adanya bantuan, serta perhatian dan kasih sayang yang begitu besar dari para jiran tetangga, wanita asal Aceh itu pun masih mampu menjalani kehidupannya.

Ditemui wartawan di kediaman tetangganya, Legiem, Rabu (1/11/2017) pagi, Paikem hanya bisa diam terbaring, sambil sesekali berinteraksi lewat isyarat tubuh. Tak ada sedikit pun kata yang bisa diucapkannya, selain toleran wajah dan anggukan kepala.

Menurut Burhanuddin, selaku Kepala Lingkungan VII, Kelurahan Pujidadi, Paikem tergolong sebagai warga miskin di daerahnya. Selama ini, janda dari Almarhum Kasan Petek itu hanya mengandalkan pendapatan dari profesinya sebagai tukang pijat keliling.

Malang bagi Paikem, seru Burhanuddin. Meskipun hidup melarat dan sebatang kara, sejauh ini wanita tersebut tidak pernah menerima bantuan dalam bentuk apapun dari Pemerintah Kota Binjai, mengingat status kependudukan yang belum jelas.

Untuk menjamin pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan tempat tinggal, tidak jarang warga bersama-sama mengumpulkan dan menyerahkan bantuan untuk Paikem. "Kebetulan di daerah ini, Bu Paikem dikenal sebagai sosok wanita yang rajin dan ramah dengan warga sekitar," ujarnya, didampingi dua warga setempat, Armaya dan Zanuardi.

Menurut Burhanuddin, kehidupan sebatang kara Paikem dimulai selepas dia ditinggal mati oleh sang suami, Almarhum Kasan Petek, dua tahun silam. Kesedihan pun kian bertambah, karena selama menikah, pasangan suami-istri ini sama sekali tidak dikarunai anak.

Menariknya, selama berstatus janda, Paikem tak pernah mengeluh dan terus berjuang mempertahankan hidup, meskipun terkadang harus bergantung dari belas kasihan dan bantuan para jiran tetangga.

"Melihat kondisi tersebut, Ratmi, salah seorang warga kemudian berinisiatif membuatkan sebuah gubuk sederhana berdinding tepas, yang dilengkapi lampu listik sebagai alat penerangan. Bangunan itu pula yang kini menjadi rumah Ibu Paikem," terang Burhanuddin.

Beruntung menurutnya, pada Minggu, 29 Oktober lalu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Binjai, Agus Supriantono, menyempatkan diri datang menjenguk Paikem di kediamannya, sembari menyerahkan bantuan bahan makanan.

Di saat itu pula, Camat Binjai Selatan, Fatimah Hanim, serta beberapa petugas dari Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Binjai, turut hadir meninjau tempat tinggal dan memeriksakan kondisi kesehatan Paikem.

"Alhamdulillah, setelah kedatangan para pejabat tersebut, segala kebutuhan Ibu Paikem, baik itu makanan, pakaian, maupun obat-obatan, untuk sementara bisa terpenuhi, walaupun kondisi kesehatannya terus saja mengalami penurunan," seru Burhanuddin.

Di sisi lain, dia mengaku sedang mengupayakan pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) bagi Paikem, dengan menempatkan nama wanita malang itu pada kartu keluarga (KK) sang tetangga, Legiem.***