Kamis, 25 April 2019

Pelayanan RSU Dr Djoelham Binjai Dipertanyakan

DPRD: Kalau Dirut Tidak Mampu Sebaiknya Mundur


# lia, binjai

Pelayanan medis Rsu Dr Djoelham Binjai dipertanyakan.Pasalnya pasien paru-paru baru-baru ini harus dirujuk ke Medan dengan alasan alatnya rusak. Bagaimana pula rumah sakit ini bisa mendapatkan akreditasi tipe B.Siapa yang memberikan rekomendasi tersebut, ujar Sekretaris DPD Partai Golkar Kota Binjai H.Nur Sri Alam Syah Putra, di Sekretariat Partai Golkar Kota Binjai, Sabtu (24/3/2019).

Dikatakan Sekretaris DPD Partai Golkar  Kota Binjai yang sering disapa H.Kires ini, perihal itu diketahuinya saat dia sedang melakukan Sidak ke Rumah Sakit dr.Djoelham Binjai dan sekaligus melihat masyarakat yang mengidap penyakit paru-paru di rumah sakit tersebut. Menurut dokter, ddalam paru-paru pasien, ada cairan sekitar 80 persen di tubuhnya.Setelah masuk ke ruangan UGD,pasien itu tidak bisa di proses dengan alasan peralatan untuk mengecek paru-paru rusak.Jadi kenapa alat paru yang rusak tidak diperbaiki.

" Kenapa gedungnya saja yang dibesarkan sedangkan pelayanannya tidak ditingkatkan.Ini adalah suatu kesalahan, yang paling penting justru pelayanan, kalau di rumah sakit" ujarnya.

Dipertanyakan, mengapa alat paru-paru yang sangat dibutuhkan itu tidak diperbaiki.Untuk itu saya menilai pelayanan RSU dr Djoelham Binjai lemah.Padahal rumah sakit itu masuk klasifikasi tipe B, beber H.Kires.

"Selaku lembaga pengawasan, kami menanyakan apakah Rsu Djoelham Binjai mendapatkan status rumah sakit tipe B, dan sumber yang memberikan akreditas itu siapa.Jadi sejauh mana tanggung jawab Dirut dalam pelayanan terkait alat yang rusak tersebut,meskipun pelayanan dan peralatannya ada.Namun menurut penilaian, pelayanan rumah sakit Dr Djoelham pelayanannya belum layak," ungkap H.Kires.

Pelayanan jelek lainnya di rumah sakit pemerintah tersebut, lanjut H.Kires, ada pasien penyakit Prostat berobat di RS Djoelham Binjai lalu dipasang keteter.Selanjutnya dirujuk ke RS Pringadi dan H.Adam Malik Medan karena keteter di dada pasien itu lengket dan tidak bisa dicabut.Namun kedua RS itu penuh pasien.Akhirnya dibawa ke RS Swasta Mitra Sejati Medan dan harus menjalani oprerasi sebesar Rp.11juta, jelas H.Kires.

Sementara itu, Dirut Rsu Djoelham Binjai melalui Wakil Direktur Bidang SDM dan Pelayanan Umum Jonner Lumbantoruan yang dikonfirmasi SIB melalui selulernya,Minggu (24/3/2019) siang, membenarkan jika peralatan untuk paru-paru di RSU Djoelham Binjai belum diperbaki.Jadi pasien tidak bisa diperiksa, sehingga pasien paru-paru itu pindah berobat ke rumah sakit lain.

Ditanya siapa yang mengeluarkan status RSU Djoelham berakreditasi tipe B, menurut Jonner dikeluarkan lembaga yang sudah mengecek peralatan dan pelayanan di rumah sakit,yakni tim Surveyor Verifikasi KARS, terang Jonner.***

Foto : RSU Dr Djoelham Binjai Jalan Sultan Hasanudin Kota Binjai. (*)