Minggu, 12 July 2020

Doa Romo Syafi’i di Sidang Bersama DPR-MPR

Kekerasan Terhadap Warga Sarirejo Disampaikan ke Presiden


# jack, medan

Anggota DPR RI, HR Muhammad Syafi’i SH Mhum, lewat doa sampaikan kepada presiden kasus kekerasan yang dilakukan oknum TNI Angkatan Udara (AU) terhadap masyarakat Sari Rejo, Medan Polonia, termasuk 2 jurnalis yang melakukan tugas jurnalistik menjadi korban.

Doa saat rapat Paripurna bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) untuk pembukaan masa persidangan I tahun sidang 2016-2017, yang juga disaksikan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta para menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid 2, Selasa (16/8/2016).

Romo Syafi’i dengan suara lantang dalam doanya menyebutkan satu-persatu kebobrokan Indonesia menurutnya. Bahkan ia juga memohon supaya negara ini dijauhkan dari pemimpin yang khianat dan memintanya segera bertaubat.

Para peserta sidang terlihat khusyuk mendengarkan doa yang dipanjatkan Syafi’i sambil mengamininya. Tetapi ada juga peserta yang tertawa ketika mendengarkan doa. Setelah doa selesai, mereka pun memberi tepuk tangan.

Tayangan isi doa Syafi’i di hadapan Jokowi-JK seperti dikutip inimedanbung.com dari video yang diunggah di alamat https://www.youtube.com/watch?v=iiUgLgpaB-w dan sudah dilihat lebih dari 17.000 kali, Selasa (16/8/2016):

“Wahai Allah memang semua penjara over capacity tapi kami tidak melihat ada upaya untuk mengurangi kejahatan. Karena kejahatan seperti diorganisir wahai Allah. Kami tahu pesan dari sahabat nabi-Mu, bahwa kejahatan-kejahatan ini bisa hebat, bukan karena penjahat yang hebat tapi karena orang-orang baik belum bersatu wahai Allah atau belum mendapat kesempatan di negeri ini untuk membuat kebijakan-kebijakan baik yang bisa menekan kejahatan-kejahatan itu.”

“Ya rabbalalamin, lihatlah kehidupan ekonomi kami. Bung Karno sangat khawatir bangsa kami akan menjadi kuli di negeri kami sendiri. Tapi hari ini sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah, bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami.”

“Ya rabbalalamin, kehidupan sosial budaya sepertinya kami kehilangan jati diri bangsa ini yang ramah, yang santun, yang saling percaya. Ya rabbalalamin kami juga belum tahu bagaimana kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa ini kalau suatu ketika ada bangsa lain yang akan menyerang bangsa kami.”

“Ya rahman ya rahim, tapi kami masih percaya kepada-Mu. Bahwa ketika kami masih mau menengadahkan tangan kepada-Mu itu berarti kami masih mengerti Engkau adalah tuhan kami, Engkau adalah Allah yang maha kuasa.”

“Jauhkan kami Ya Allah, dari pemimpin yang khianat, yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong. Yang kekuasaannya bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat. Dimana-mana rakyat digusur tanpa tahu ke mana mereka harus pergi. Dimana-mana rakyat kehilangan pekerjaan.

“Allah, di negeri yang kaya ini rakyat ini outsourcing wahai Allah. Tidak ada jaminan kehidupan mereka. Aparat seakan begitu antusias untuk menakuti rakyat. Hari ini di Kota Medan, Sumatra Utara 5.000 KK rakyat Indonesia sengsara dengan perlakuan aparat negara ya rabbalalamin.”

“Allah lindungilah rakyat ini, mereka banyak tidak tahu apa-apa. Mereka percayakan kendali negara dan pemerintahan kepada pemerintah. Allah, kalau ada mereka yang ingin bertaubat terimalah taubat mereka ya Allah. Tapi kalau mereka tidak bertaubat dengan kesalahan yang diperbuat, gantikan dia dengan pemimpin yang lebih baik di negeri ini  ya rabbalalamin.”

Dalam doa tersebut Syafi’i menyinggung soal bentrok di Medan. Anggota Komisi III DPR ini lalu membahas soal bentrok saat penertiban warga di Medan, Sumatrra Utara.

Romo Syafi’i mengaku doa itu dia panjatkan tanpa teks. Bahwa pagi itu saat mendengar kabar soal bentrok di Medan, dia pun merasa prihatin dan menyampaikannya dalam doa. ***