Selasa, 7 July 2020

Diyakini Bukan ISIS, Skenario Tidak Rapi dan Tulisan ISIS Bersalahan

DPRDSU: Desak Polisi Ungkap Motif Dibalik Penyerangan


# jack, medan

Kalangan DPRD Sumut meminta aparat Kepolisian untuk segera mengungkap motif penyerangan Pastor Albert Pandiangan atau rencana peledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosef Jalan Dr Mansyur Medan, guna menghindari keresahan di tengah-tengah masyarakat.

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi E DPRD Sumut H Syamsul Quodri Marpaung, Lc dan Ketua FP Gerindra  Ir Yantoni Purba, MM kepada wartawan, Senin (29/8) di DPRD Sumut menanggapi terjadinya penyerangan Pastor dan percobaan peledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosef. “Kita berharap kepada aparat Kepolisian untuk segera mengungkap apa motif penyerangan dan rencana peledakan bom bunuh diri tersebut, demi ketenangan masyarakat,” ujar Syamsul Quodri sembari mengungkapkan keyakinanya, walaupun masyarakat Sumut tidak akan terpancing dengan aksi provokasi yang sifatnya memecah-belah, tapi kejelasan motif sangat perlu diketahui masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Syamsul juga mengungkapkan keyakinanya bahwa pelaku percobaan bunuh diri bukan  kelompok ISIS (Islamic State of Iraq dan Syria) atau Negara Islam Irak dan Syria/Suriah, sebab perencanaanya sangat tidak rapi serta tulisan ISIS juga tidak benar alias bersalahan. "Kecil kemungkinan ISIS terlibat dalam insiden di Gereja Santo Yosep Medan kemarin, sebab aksinya sangat amatiran maupun skenarionya tidak rapi, bahkan tulisan-tulisan ISIS bersalahan,” ujar politisi PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Sumut ini.

Syamsul bahkan menyatakan, belum pernah ada ditemukan dan kejadian aksi pelaku terorisme dalam menjalankan aksinya mempersiapkan data dan identitas  diri yang begitu lengkapnya. "Masa pelakunya mempersiapkan data dirinya lengkap seperti KTP dalam menjalankan aksinya. Saat kita cek ke Dinas Kependudukan Kota Medan, KTP pelaku asli dan benar," katanya.

Atau ada kemungkinan sekenario insiden di Gereja Santo Yosep Medan telah dipersiapkan agar pelakunya tertangkap. "Ini yang perlu kejelasan, apakah ada skenario pelakunya memang dipersiapkan tertangkap. Maka dari itu kita minta aparat mengusutnya siapa dalang atau pihak yang diuntungkan dalam aksi tersebut," katanya. 

Menyikapi adanya ditemukan simbol mirip Kelompok ISIS di saku celana pelaku, Syamsul Qadri juga menilai simbol tersebut sangat jauh berbeda dengan simbol yang selama ini diketahui dan lihat di sejumlah media. "Sebab tulisan Arab dan ISIS yang ditemukan pada diri pelaku tersebut penulisannya salah sebagaimana yang selama ini kita lihat," katanya.

Untuk itu, Syamsul berharap masyarakat jangan terlalu jauh apalagi terprovokasi menanggapi insiden di Gereja Santo Yosep Medan . "Mari semuanya kita serahkan penanganannya kepada aparat," katanya sembari mengungkapkan keyakinannya, masyarakat Sumut sudah “kebal” dengan aksi provokasi dan tidak mungkin akan terpancing.

Sementara itu, ketua Fraksi Gerindra DPRD Sumut, Yantoni Purba bahkan meminta kepada aparat Kepolisian untuk memfokuskan pengamanan gereja-gereja maupun rumah ibadah serta instansi yang vital secara ketat, karena bisa saja sasaran para teroris saat ini beralih ke Medan, karena daerah ini merupakan sasaran empuk, selain kota-kota besar lainnya di Indonesia.  

“Jika memungkinkan, Sumut perlu diturunkan Tim Densus 88 untuk mengantisipasi aksi teror, agar bisa diantisipasi sedini mungkin, karena daerah ini sudah lama luput dari ancaman teror bom. Disaat kita lengah, bisa saja sasarannya beralih ke Sumut. Ini yang perlu diwaspadai,” ujar Yantoni. ***