Selasa, 14 July 2020

Pemerintah Harus Tegas Soal Pukat Harimau


>> jack, deliserdang
Cagubsu nomor urut 2 Drs Effendi Muara Sakti Simbolon mengatakan, harus ada ketegasan pemerintah dan pihak kepolisian untuk melarang beroperasinya pukat harimau. Sebab, katanya, selain melanggar undang-undang, keberadaan pukat harimau juga menyebabkan nelayan tradisional kehilangan tangkapan ikannya.
"Kenapa pukat harimau itu tetap diperbolehkan beroperasi?. Ini harus ada ketegasan dari pemerintah maupun pihak kepolisian, untuk melarang ini. Karena ini jelas melanggar undang-undang," ujar Effendi ketika mengunjungi nelayan tradisional di Pantai Labu Deli Serdang kemarin.
Menurutnya, belum sejahteranya kehidupan nelayan di wilayah Sumatera Utara, salah satunya akibat faktor keserakahan manusia. Dan itu, kata Effendi, bisa dilihat dari masih terus beroperasinya pukat harimau. "Dan ini berakibat banyaknya nelayan tradisional yang harus kehilangan tangkapannya karena kalah bersaing," imbuhnya.
Bahkan, Effendi menduga, bukan tidak mungkin solar bersubsidi yang seharusnya untuk nelayan tradisional, justru digunakan oleh pukat harimau. Karena itu, pihaknya akan mempertanyakan hal ini ke PT Pertamina. "Bukan tidak mungkin solar yang seharusnya diperuntukkan bagi nelayan tradisional, justru dimanfaatkan oleh pukat harimau itu," ujarnya.
Selain soal pukat harimau, Effendi juga menyoroti kerusakan hutan bakau yang sudah mencapai 90 persen, seperti yang dirilis Badan Lingkungan Hidup Sumatera Utara sekitar dua tahun lalu. Padahal menurut Effendi, selain bermanfaat bagi tempat kehidupan biota laut seperti ikan, kepiting, udang maupun kerang, hutan bakau akan sangat berfungsi sebagai benteng terakhir untuk menahan terjadinya abrasi.
"Kebanyakan kawasan hutan bakau ini beralihfungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Ini bisa berbahaya kalau terus dibiarkan, karena tanaman sawit tidak akan mampu menahan abrasi," ungkap Effendi.
Tokoh nelayan di Pantai Labu, Pranata mengatakan, selain kesulitan mendapatkan ikan, kehidupan nelayan semakin diperparah dengan beredarnya ikan impor di Sumatera Utara. Akibatnya, harga ikan yang susah payah mereka dapatkan menjadi murah. "Ikan impor sekarang banyak masuk ke Sumatera Utara pak. Kami jadi susah menjual ikan hasil tangkapan kami," keluhnya.
Dalam silaturahminya ke Pantai Labu tersebut, Effendi yang didampingi Ketua Tim Kampanye ESJA Ruben Tarigan, juga mendapat kehormatan disematkan baju adat Melayu oleh perwakilan nelayan. Bersama nelayan dan warga Effendi berkesempatan untuk bernyanyi. Pemberian baju adat melayu oleh nelayan tersebut, merupakan bentuk dukungan para nelayan kepada Effendi agar menjadi Gubernur Sumatera Utara. Sehingga bisa membantu kehidupan nelayan di seluruh Sumatera Utara. ***