Rabu, 13 November 2019

Pukat Harimau Kembali Beroprasi Ribuan Nelayan Tradisionil


#hendrik-rompas, belawan

Sejak Pemerintah Republik Indonesia melalui Kepmen No.71 melarang kapal ikan pukat Trawl beroprasi maka nelayan tradisionil di Propinsi Sumatera Utara ini merasa gembira karena pendapatan mereka bertambah.

Kini, kapal kapal ikan yang menggunakan jaring pukat Trawl yang telah dilarang tersebut beroprasi kembali berdampak nelayan kecil/tradisionil menjadi resah karena  pendapatannya  berkurang drastis.

Seperti nelayan di kawasan Medan Utara antara lain nelayan di Belawan, Medan Labuhan dan di Medan Marelan.Mereka merasa resah karena kapal pukat Harimau yang telah dularang itu beroprasi kembali yang berangkatnya ke Laut dari Pelabuhan Perikanan pada malam hari dan saat masuknya pun malam hari kemudian kapal kapal tersebut membongkar ikann6a juga malam hari karena takut diketahui oleh masyarakat.

Hal tersebut dikatakan, Ardi (45) nelayan jaring ikan Gembung yang berpangkalan di Gudang Arang Belawan.Kapal pukat Trawl tersebut bila siang hari menangkap ikan ditengah laut tapi bila malam mereka menangkap ikan di pinggir sehingga mengganggu para nelayan kecil,malahan mereka sering menabrak jaring ikan kami kata Ardi.

Lain hal yang dikatakan Khairuddin Nasution,kapal pukat Trawl tersebut saat berangkat dari Gabion dikawal oleh sejumlah oknum berpakaian loreng dan pakaian Coklat bersenjata laras panjang.

Khauruddin saat ditanya tentang ijin kapal pukat Trawl sudah kembali beroprasi tersebut mengatakan,Kepmen 71 belum dicabut oleh Pemerintah dan ijin mereka berlayar dari Tuhan dan dari aparat setempat.

Senentara itu saat wartawan ini melakukan konfirmasi ke Ditpolairud Polda Sumatera Utara,Direktur Polisi Perairan Polda Sumatera Utara Kombes Pol Yossy tidak ada ditempatnya berhubung hari Minggu. Begitu juga saat saat wartawan melakykan konfirmasi ke Kasat Gakkumnya AKBP Nagari Siaahan SH juga tidak ada ditempatnya dan saat HPnya dihubungi juga tudak tidak dijawab.

Khairuddin dan Ardi yang mewakili nelayan tradisionil di Medan Utara ini berharap agar Pemerintah benar benar menegakkan Hukum yang telah dibuatnya.Jika begini seterusnya kapan nelayan tradisionil itu bisa hidupnya makmur,jangan nelayan besar saja yang menikmati hasil laut ini tapi Pemerintah itu harus memikirkan nasib nelayan kecil yang hidupnya oad pasan.Jika nelayan besar itu mencari ikan dengan kapal kapal besar dan menggunakan pukat Trswl untuk mencari kekayaan tapi kami untuk mencari makan dan kebutuhan anak sekolah tak lepas dan jika kami melaut sering tak dapat hasil dan terkadang termakab modal,maka kami memilih menambatkan kapal kapal kami didermaga. ***

Foto Khairuddin dan Ardi. (*)