Jumat, 20 October 2017

Penyakit TB Masih Membebani Masyarakat

Gubernur Dorong Sosialisasi Pemberantasan Tuberkulosis


#jack, medan

Masalah penyakit Tuberkulosis (TB) ternyata masih membebani masyarakat hingga saat ini. Catatan WHO pada 2015, Indonesia menempati urutan kedua dunia sebagai Negara dengan jumlah kasus TB terbesar setelah China. Karenanya untuk terus mensosialisaikan pemberantasannya, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) berencana menindaklanjuti melalui program kemasyarakatan.

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) HT Erry Nuradi menyebutkan, dari hasil survey terbaru, jumlah kasus baru TB di Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 1,02 juta kasus, atau naik dua kali lipat dari estimasi pada tahun sebelumnya. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai penyumbang sekitar 10 persen dari 10,04 kasus di dunia. Sedangkan di Sumut, pada 2016 jumlahnya mencapai 23.097 kasus dengan angka kematian 5.714 orang.

"Angka ini juga belum mecerminkan seluruh kasus yang ada di masyarakat seperti TB Paru, Ekstra Paru dan TB Anak. Sebab antara data yang dilaporkan dan yang dideteksi masyarakat ke pemerintah masih belum optimal, sekitar 33,7 persen dijangkau program," ujar Gubernur pada acara CLosing Program Tuberkulosis (TB) Cepat Jaringan Kesejahteraan/Kesehatan Masyarakat (JKM) USAID Provinsi Sumatera Utara, di rumah dinas, Selasa (10/10/2017).

Sementara Chief of Party (COP) USAID Indonesia's Public Health Insurance Quick Program (JKM) dr Delyuzar menyampaikan bahwa program ini sudah berjalan di tiga provinsi yakni Sumut, Sumatera Barat dan DKI Jakarta. Sedangkan untuk Sumut, pihaknya berada di empat kabupaten/kota, Medan, Tanjung Balai, Deli Serdang dan Serdang Bedagai sejak 20 Desember 2012 lalu hingga 19 Desember 2017 mendatang. Karenanya pada penutupan program tersebut, pihaknya juga berterimakasih atas dukungan Pemprov Sumut terhadap penanggulangan penyakit TB.

Selama ini, kegiatan sosialisasi yang dilakukan seluruh kader dan koordinator program TB Cepat JKM USAID bertujuan mengingatkan masyarakat tentang tanda-tanda TB sekaligus bagaimana penanggulangannya. Selain itu, program ini juga memobilisasi dan memberdayakan masyarakat dalam penanganan TB, termasuk advokasi serta melibatkan perusahaan untuk bisa mengalokasikan dana CSR, membantu program ini.***