Minggu, 8 December 2019

Air Laut Pasang Besar Pemko Gagal Tanam Ratusan Bangkai Babi


#hendrik-rompas, belawan

Rencana Pemko Medan untuk menguburkan secara massal terhadap ratusan ekor bangkai babi gagal akibat air pasang naik di kawasan Danau Siombak Jalan Pasar Nippon, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Senin (11/11/2019).

Agendanya, penguburan akan dilaksanakan, Selasa (12/11/2019) sore. Penanganan bangkai Babi yang terinfeksi virus Hog Cholera mulai dilakukan tim gabungan dengan mengumpulkan secara massal bangkai Babi dari kawasan Danau Siombak dan Sungai Badera.

Sedangkan angka babi yang terjangkit dan mati akibat kolera babi ini terus bertambah. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, M Azhar Harahap menyebutkan kematian ternak Babi di Sumut mencapai 5800 ekor.

“Sesuai laporan terjadi di 11 kab/kota di Sumatera Utara dengan jumlah kematian sampai hari ini mencapai 5.800,” ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut, M Azhar Harahap kepada wartawan saat meninjau lokasi bangkai Babi di Danau Siombak, Senin (11/11/2019).

Penguburan massal tersebut terkendala dengan peralatan yang minim serta lokasi yang berada di kawasan Danau Siombak yang dipenuhi hutan mangrove dan air pasang. Tim Unit Reaksi Cepat ini terdiri dari berbagai instansi terkait, fokus pencegahan dan penanganan peredaran virus Hog Cholera babi.

“Yang sudah berhasil dievakuasi 106 ekor bangkai babi dari Danau Siombak. Dilakukan penguburan massal terhadap bangkai Babi tersebut sehingga diharapkan tidak menganggu pencemaran lingkungan terhadap masyarakat di sekitar ini.

Dalam peninjauan tersebut, turut serta Balai Veteriner Medan, Dirjen Peternakan, Dinas Lingkungan Hidup Medan dan Sumut, BPBD Medan dan Sumut, dan lainnya.

Tim melakukan pemantauan dan pengumpulan bangkai Babi di Danau Siombak, Sungai Bedera dan sekitarnya. Tim sendiri menggunakan perahu karet untuk menyeberang ke lokasi. Tim juga membutuhkan eskavator amfibi untuk menuju ke lokasi dan mengali lubang.

“Bangkai sudah terkumpul tinggal menunggu eskavator amfibi untuk bisa menyeberang. Karena di sana akan digali lubang yang besar karena (jumlahnya) banyak, harus ada lubang besar,” jelasnya.

Terkait pembuangan bangkai babi yang telah mencemari lingkungan, Kapolsek Medan Labuhan, AKP Edy Safari saat ditemui wartawan mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dit Krimsus Polda Sumut untuk menindak lanjuti tersangka yang membuang bangkai Babi ke alur sungai dan bisa menimbulkan penyakit. Ucapnya.

“Polisi masih melakukan penyelidikan terhadap orang-orang yang membuang bangkai Babi ke sungai. Kita juga lidik ke peternakan di Tanjung Gusta dan Percut Seituan. Ini masuk pencemaran lingkungan hidup, ancaman di atas 10 tahun penjara,” ujar Kapolsek. ***

Foto bangkai babi yang akan ditanam. (*)