Kamis, 13 December 2018

Sindikat Sabu-sabu antar Provinsi Digulung


#david, simalungun
Beromset hingga Rp1,5 miliar per bulan, sindikat peredaran sabu-sabu antar provinsi digulung tim Unit Sat Narkoba Polres Simalungun. Hal itu dikemukakan Kapolres Simalungun, AKBP Marudut Liberty Panjaitan SH MH, dalam Press Release di Asrama Polisi kawasan Jalan Sangnawaluh, Siantar, beberapa waktu lalu.

“Ada 12 tersangka anggota sindikat peredaran sabu-sabu yang telah kita amankan dari tempat berbeda,” ungkapnya didampingi Kasat Res Narkoba, AKP Juriady Regama Sembiring SH MH.

Ia menjelaskan, para pelaku dimaksud adalah Abdul Rivai, Doni Kusuma, Okto Pringadi Simarmata, Sarek alias Brekele, Kamaluddin Munthe alias Ayah Kamal, Boy Samosir, Tajas, Safrizal Sinaga alias Rizal, Muhammad Fauzi alias Fauzi, Suarno alias Arnold, Ermansyah Lubis dan Abdul Choir Nasution. Ditambahkannya, kronologis penangkapan terhadap sindikat ini bermula dari Abdul Rivai pada Sabtu (14/9/2018) di Nagori Siantar State, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun dengan barang bukti dua bungkus klip sabu-sabu.

Dihadapan juru periksa, Rivai menyebutkan nama tersangka lainnya, Doni Kusuma, yang langsung diciduk di kawasan Jalan Rakuta Sembiring Kecamatan Siantar Martoba, Siantar sekira pukul 21.00 WIB. Doni mengaku sabu-sabu diperoleh dari Okto Pringadi Simarmata yang kemudian dibekuk dari kawasan Jalan Rakuta Sembiring Gang Naga Tujuh dengan barang bukti berupa handphone serta uang tunai senilai Rp170 ribu yang diduga hasil penjualan sabu-sabu.

Secara berantai, sejumlah nama muncul dari pengakuan tersangka yang telah diamankan. Okto misalnya membeli sabu-sabu dari Sarel alias Brekele dengan sistem laku-bayar. Dari tangan Brekele disita satu plastik klip besar berisi 12 bungkus plastik klip kecil berisi sabu-sabu dan 10 plastik klip kosong serta sendok terbuat dari sedotan.
“Keterangan tersangka Brekele, sabu-sabu itu dibeli dari Kamaluddin Munthe alias Ayah Kamal,” ujar Kapolres.

Pengejaran terhadap Ayah Kamal segera dilakukan. Hasilnya tidak sia-sia, Sabtu (15/9/2018) sekira pukul 17.30 WIB, tim Sat Narkoba mendapatkan informasi bahwa Ayah Kamal berada di areal pemakaman kawasan Jalan Parsoburan Kelurahan Suka Maju Kecamatan Siantar Marihat, Kota Siantar. Gerak cepat sejumlah personil kepolisian membuat Ayah Kamal tak berkutik saat digelandang ke Mapolres Simalungun.

“Ayah Kamal mengaku membeli sabu-sabu dari Boy Samosir, warga Siantar. Saya langsung yang memimpin tim saat mendatangi rumah tersangka di kawasan Jalan Silimakuta Kelurahan Timbang Galung, Siantar pada hari Minggu tanggal 16 September 2018,” tutur Kapolres.

Namun, lanjutnya, tersangka mencoba mengelabui aparat kepolisian dengan berpura-pura tidak berada di dalam rumah. Tak kehilangan akal, sejumlah personil kepolisian menghubungi kepala lingkungan dan tokoh masyarakat setempat untuk mendobrak pintu kediaman tersangka.

“Ternyata, Boy Samosir dan istrinya, Indri Syahputri bersembunyi di dalam rumah. Ada sabu-sabu kami temukan di tempat sampah kamar mandinya,” ujar Kapolres.

Dari hasil interogasi Boy, kembali muncul nama baru sebagai konsumennya yakni Tajas, warga kawasan Jalan Sibatu-batu Gang Amalia Blok IX Kelurahan Bah Kapul, Kecamatan Siantar Sitalasari, Siantar. “Boy mengaku menjual 5 gram sabu-sabu kepada Tajas,” tukasnya.

Menariknya, saat personil kepolisian tiba di teras rumah Tajas, ada beberapa pria yang berkumpul dan segera digelandang ke Mapolres Simalungun karena ditemukan sabu-sabu. Pria dimaksud adalah Syahfrizal Sinaga alias Rizal, Muhammad Fauzi alias Fauzi dan Suarno alias Arnold. Sementara Tajas, diringkus saat berada di kamar mandi dengan barang bukti berupa sabu dan alat isapnya.

“Dari handphone Boy Samosir itu, ada nomor yang diduga milik bandar besar sabu-sabu,” sebutnya.

Melalui serangkaian strategi penyamaran, personil Sat Narkoba sukses meringkus dua pelaku, Ermansyah Lubis dan Abdul Choir Nasution, saat bertransaksi sabu-sabu di kawasan Jalan Medan, Simpang Dolok Merangir Kecamatan Tapian Dolok, Simalungun, Rabu (19/9/2018). Saat diinterogasi, kedua pelaku hanya menyebutkan memesan sabu-sabu dari seseorang berinisial BD melalui telepon seluler.

“Anggota kepolisian yang sudah berkomunikasi dengan BD dengan berpura-pura hendak membeli sabu-sabu menilai, logat bicaranya mirip pria bersuku Aceh. Sekarang masih kita telusuri keberadaan BD,” tandasnya. ***