Kamis, 22 August 2019

Penahanan Warga Konflik di PT. SOL, PLPI

Persada Luat Pahae Akan Jamini Warga yang Ditahan


# rijam, medan

Parsadaan Luat Pahae Indonesia (PLPI) minta Polres Tapanuli Utara (Taput) dan Poldasu menangguhkan penahanan terhadap sejumlah warga yang menjadi tersangka saat unjukrasa di PT. Sarulla Operation Limited (PT SOL), Pahae Jae, Taput.

Ketua Umum PLPI dr Hulman Sitompul Sp.OG mengatakan, aksi warga yang bermukim di sekitar PT SOL tidak lain untuk mempertanyakan apa yang terjadi dengan ledakan dan suara bising yang bersumber dari kawasan PT SOL dalam ledakan pada Sabtu (15/10/2016). Kebingungan warga ditambah lagi dengan tidak adanya penjelasan dari PT SOL mau pun Hyundai terkait ledakan itu sehingga menimbulkan kekhawatiran warga sekitar. Karena, selama ini, sosialisasi kepada masyarakat sangat minim. "Orang yang sedang panik berduyun-duyun ke lokasi. Karena tidak ada penjelasan dari SOL dan Hyundai, semakin takut. Lalu ada provokasi, kemudian terjadilah," kata Hulman, kepada wartawan, dalam konfrensi persnya di rumah makan Nasrul, Jalan SM. Raja Medan, Selasa (18/10/2016).

Ketika memberikan keterangan, Hulman didampingi sejumlah pengurus PLPI diantaranya Sekretaris Umum Shohibul Anshor Siregar, Bendahara Huminsa Sitompul, Bukit Sitompul, dan pengurus lainnya. 

Selama ini warga, kata Hulman, merasakan kekecewaan akibat sikap dari PT SOL yang tidak hanya kurang sosialisasi, melainkan juga mengabaikan keberadaan warga lokal untuk dilibatkan dalam bekerja. Dalam pekerjaan-pekarjaan umum yang tidak memerlukan keahlian khusus, misalnya, mereka menemukan warga dari luar Pahae yang dipekerjakan. "Sementara warga sudah menjual tanahnya demi mendukung pembangunan, tetapi tidak dapat pekerjaan. Ini semua akumulasi kekecewaan. "Kita harapkan pada Pemda, perusahaan, dan Polres perlu memperhatikan secara kekeluargaan persoalan ini. Pikirkan kerugian masyarakat itu. Kalau perlu kita akan jamini biar mereka bisa bebas dan kembali pada keluarganya karena apabila tidak, ini akan jadi benih konflik kedepannya," ungkap Hulman.

Sekretaris Umum PLPI Shohibul Anshor Siregar menuturkan, secara sosiologis dan psikologis, ada perasaan terampas yang dirasakan masyarakat Pahae dengan kehadiran PT SOL. Mereka para perantau berulangkali menyampaikan berbagai persoalan kepada pihak terkait. Dan dalam pertemuan terakhir pada Februari lalu, kata Shohibul, mereka menyampaikan beberapa hal di antaranya sosialisasi ke masyarakat sangat minim, dan rekrutmen untuk tenaga umum mestinya diutamakan orang lokal. "Kita menemukan hanya untuk tukang las itu saja orang luar. Jadi ada kecemburuan sosial. Sementara distribusi Coorporate Sosial Responbiliylty (CSR), seharusnya bisa menjawab rencana-rencana kedepan, misal bagaimana merevitalisasi sumber-sumber spesifik, seperti karet, kemenyan demi kesejahteraan masyarakat," kata Shohibul.

Seperti diketahui, kericuhan pecah saat warga mendatangi lokasi PT SOL di Pahae pasca ledakan. Ledakan ini sendiri kali keempat yang diketahui warga sehingga menimbulkan kepanikan. 37 orang warga kemudian ditangkap keeseokan harinya sedangkan 7 orang pekerja dilaporkan terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat kerusuhan. 

Sementara, Humas PT SOL Industan Sitompul tidak menjawab konfirmasi wartawan via aplikasi WhatsAppnya. ***

Photo ; Ketua Umum PLPI, dr. Hulman Sp.OG didampingi Sekretaris Umum PLPI Shohibul Anshor Siregar dan pengurus lainnya dalam konfrensi pers terkait kerusuhan di PT. SOL