Senin, 21 August 2017

Komunitas Pemilu Bersih Bakal Demo Besar

Seleksi Calon Panwas Diduga Sarat 'Titipan Pungli'


# jack, medan

Proses seleksi panitia pengawas (Panwas) Pilkada sudah memasuki tahap pengumuman enam besar calon untuk kembali dipilih tiga besar nama yang akan duduk sebagai anggota panwas.

Namun dari hasil yang diumumkan tim seleksi (timsel), menuai banyak persoalan.

Apalagi banyak peserta calon anggota panwas yang mengikuti proses tersebut. Sebab selain isu pungli, juga tersebar bahwa sebagian nama yang diumumkan untuk setiap kabupaten/kota, adalah titipan dari pihak tertentu.

Koordinator Komunitas Pemilu Bersih Rudi Samosir mengatakan bahwa dirinya bersama sejumlah rekan lain yang ikut mendaftar seleksi calon panwas Pilkada di kabupaten/kota. Namun ada upaya mengutak-atik siapa calon pemenang anggota panwas. Mereka menduga hal itu mempunyai keterlibatan antara tim pansel dan Bawaslu Sumut.

"Misalnya di wilayah I, terjadi perbedaan. Timsel sudah menetapkan enam besar nama, tetapi muncul kembali setelah disampaikan ke Bawaslu. Termasuk banyak calon yang lulus enam besar, sebelumnya sudah terkena sanksi DKPP, begitu juga dengan wilayah II dan III," ujar aktivis yang akrab disapa Che Ker ini kepada wartawan, Rabu (2/8/2017) malam.

Dirinya menilai, kasus seperti ini sudah harus menjadi pelajaran betapa sistem seleksi penyelenggara pemilu di Indonesia, khususnya di Sumut, jauh dari harapan akan kualitas hasil pemilihan. "Adanya dugaan otak-atik, titipan, dan pungli membuat kita pesimis pemilu jujur itu bisa tercapai, seperti jauh panggang dari api," katanya.

Atas dasar kondisi tersebut lanjut Che Ker, Komunitas Pemilu Bersih berencana menggelar aksi unjukrasa dengan sasaran ke Bawaslu RI, DKPP, Bawaslu Sumut, Sekretariat Timsel dan Ombudsman RI. Mereka akan mendesak diadakannya seleksi ulang.

"Kita juga meminta ada evaluasi Timsel dan Bawaslu. Silahkan buka hasil ujian agar jelas. Karena kita menduga ada perubahan hasil ujian pada setiap tahapan selama ini," pungkasnya.

Sementara relawan Komunitas Pemilu Bersih, Juson Simbolon menilai proses seperti ini memang sangat rentan dengan permainan khususnya bagi pemilik keputusan. Bahkan dirinya mengaku mendapat kabar dari seorang peserta yang dimintai uang oleh orang dekat oknum Timsel dengan iming-iming akan diluluskan ke enam besar calon Panwas Pilkada.

"Ini yang kita khawatirkan, karena sejak awal sudah ada kecurigaan ada permainan di dalam Timsel. Apalagi sampai ada oknum yang berani mengatasnamakan Timsel untuk meminta uang agar lolos di tahap berikutnya," katanya.

Bahkan menurut Juson, tindakan seperti ini lah yang menjadikan pengalaman kepemiluan di Indonesia khususnya di Sumut, sangat buram, dengan tingkat partisipasi sangat rendah. "Karena sejak awal, kita menduga pembentukan timsel sudah menuai kecurigaan, karena faktor koncoisme (kedekatan) dengan oknum Bawaslu. Kemudian Timsel yang dibentuk, independensinya tentu harus dipertanyakan," jelas Juson.

Selain itu lanjutnya, ditambah lagi, untuk seleksi yang singkat ini, tidak dilakukan secara terbuka atau diumumkan seperti apa hasilnya. Sehingga banyak dugaan kepada oknum, apakah Timsel itu sendiri atau melalui perantara 'orang dekat' meminta sejumlah uang. "Mainan model 'calo busuk' begini lah yang membuat lembaga pengawas ini seperti tidak berguna, karena sejak awal sudah tercium aroma tidak sedap seperti dugaan pungli," ujarnya usai mendengar keluhan peserta tentang oknum orang dekat Timsel meminta uang Rp5 juta untuk lolos enam besar. ***