Selasa, 21 November 2017

P35 Aman dari Penyakit Bulai Jagung


#ferry, deliserdang
Penyakit bulai di saat musim hujan yang kerap menyerang tanaman jagung akhirnya teratasi. Hal itu telah dibuktikan petani Desa Klumpang Kecamatan Hamparan Perak, Deliserdang, Yudianto.

“Musim tanam lalu, saya pakai benih varietas lain dan tanaman jagungnya kena penyakit bulai. Tapi setelah pakai P35, jagung aman dari penyakit bulai,” ungkapnya dihadapan rombongan PT DuPont Indonesia perwakilan Sumatera Utara yang menyambangi areal pertanamannya, Rabu (8/11/2017).

Ia mengaku menggunakan benih P32 dan P35 serta beberapa varietas lain di luar produksi PT DuPont Indonesia di areal pertanaman jagung seluas 18 hektar (ha). Atas saran Konsultan Teknisnya, Ir John Albertson Sinaga, Yudianto memanfaatkan 4 ha lahan pertanaman jagung untuk diperlakuan secara khusus agar bisa dijadikan perbandingan. Hasilnya tidak sia-sia, pertumbuhan jagung di lahan seluas 4 ha itu teramat berbeda dengan yang lain.

“Memang beda pertumbuhannya. Batang lebih besar dan kokoh, serta warna hijau daunnya lebih menarik. Satu lagi, khusus P35, tidak ada serangan penyakit bulai,” tegasnya lantas menyatakan, saat ini usia tanam jagungnya berkisar 60 hari.

John Albertson Sinaga yang ikut mendampingi Yudianto saat menerima kunjungan rombongan PT DuPont Indonesia, membenarkan hal itu. “Untuk meminimalisir penyakit bulai jagung, lahan harus bersih dari gulma dan drainase air harus lancar,” sebutnya.

Pihaknya juga menggunakan metode pemupukan Bio-Organik POMI di areal seluas 4 ha itu. Ia menjelaskan, POMI merupakan pupuk bio-organik plus dalam bentuk cair yang diproduksi melalui proses bioteknologi bahan-bahan organik dengan menggabungkan ilmu teknologi pertanian dan mikrobiologi tanah. Ditambahkannya, pupuk cair itu untuk memenuhi kebutuhan pertanian organik, baik di masa sekarang maupun mendatang.

“Selain menyuburkan tanaman dan meningkatkan hasil panen hingga 50 persen dari sebelumnya, pupuk ini juga bisa mengembalikan kesuburan lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan,” paparnya.

Market Development Manager Indonesia PT DuPont Indonesia, Adhie Widiharto, mengapresiasi upaya yang dilakukan Yudianto dan John Albertson Sinaga dalam pertanaman jagung itu. “Kreativitas berbentuk inovasi ini yang seharusnya petani lakukan untuk meningkatkan produktivitas,” pujinya.

Khusus varietas P35, Adhie mengklaim benih hibrida untuk dataran rendah itu memiliki sejumlah keunggulan. Beberapa diantaranya seperti tahan terhadap serangan penyakit bulai, usia tanam hingga panen relatif cepat yakni berkisar 100 hari setelah tanam, tongkol mudah dipetik serta produktivitasnya tinggi serta kadar air jagung pipil minim. Selain itu, lanjutnya, jagung pipil yang berwarna kuning kemerahan sangat diminati pabrik pakan. Tak hanya itu, para peternak sapi dan kambing juga bisa memanfaatkan daun jagung yang masih tetap hijau meski telah dipanen.

"Kalau menggunakan benih P35, maka petani akan cepat panen, dan biaya produksi lebih efisien,” tandasnya lantas berharap pertanaman jagung di Desa Klumpang bisa dijadikan percontohan sekaligus sarana belajar bagi para petani jagung.***

Teks Foto: Market Development Manager Indonesia PT DuPont Indonesia, Adhie Widiharto, mengukur panjang tongkol jagung di areal pertanaman milik Yudianto, di Desa Klumpang Kecamatan Hamparan Perak, Deliserdang, Rabu (8/11/2017). Menariknya, satu tanaman jagung memiliki dua tongkol yang ukurannya sama besar. Foto Fey