Rabu, 23 October 2019

KTMT Kuala Tanjung Manfaatkan 51 Persen Putra Daerah


#jack, kuala tanjung

Sejak beroperasi pada April 2019,  anak perusahaan dari PT Pelindo I, PT Prima Multi Terminal (PMT) yang dipercaya untuk mengelola Kuala Tanjung Multipurpose Terminal (KTMT) sudah melibatkan 30%  putra daerah Batubara sebagai pekerjanya.

“Untuk saat ini saja, meski belum memenuhi standarisasi tapi setidaknya sudah ada sekitar 30-51% SDM yang ada disini adalah penduduk setempat (putra daerah),” ungkap Marketing PT PMT, Zilka Zetira yang turut didampingi Marketing Manager PT PMT, Harman Simbolon, dan Coorporate Secretary PT PMT, Novita Sari Tan kepada wartawan saat ditemui di pelabuhan Kuala Tanjung, Rabu (25/9/2019).

Zilka pun menjelaskan bahwa hal itu dilakukan sebagai bentuk kesepakatan PT PMT dengan pihak Pemkab Batubara. Dimana para pekerja tersebut mereka tempatkan secara merata, mulai bidang umum hingga yang tingkat manajemen

“Semua tingkatan kita ada. Mulai dari sekuriti kita ada orang sini. Bahkan untuk sekuriti, hampir seluruhnya orang lokal. Kemudian untuk yang highnya juga ada, untuk yang dikantor. Lalu di bagian manajemen juga ada orang lokal,” beber Zilka.

Selain mempekerjakan putra daerah, PT PMT juga memiliki kesepakatan lainnya dengan Pemkab Batubara, salah satunya ialah dengan membuat kegiatan yang turut melibatkan masyarakat setempat ataupun dinas yang ada di Pemkab Batubara.

“Misalnya seperti Kemarin itu, kita juga ada kegiatan Dinas Pendidikan Batubara dan mengajak anak-anak sekolah untuk bisa mengenal pelabuhan,” sebutnya.

Zilka juga mengatakan bahwa beberapa waktu lalu saat Wakil Bupati berkunjung ke KTMT, beliau pun menyempatkan diri untuk mengobrol dengan sekuriti yang ada di PT PMT.

“Karena wakil Bupati mengetahui ada orang lokal yang bekerja disini, dia pun bangga dan mengapresiasi kami. Jadi kita (PT PMT) juga bukan sekedar membuat kesepakatan lalu kita abaikan. Kita tidak begitu,” terangnya.

Lebih lanjut Zilka menjelaskan, pelabuhan Kuala Tanjung memiliki luas 17Ha dan terbagi dua sisi, yakni sisi darat dan sisi laut. Untuk sisi darat, jelas Zilka, KTMT memliki infrastruktur berupa area perkantoran seluas 3Ha, lapangan penumpukan dengan ground slot yang mampu menampung 1.500TEUs dan kapasitas mencapai 600.000TEUs/tahun, dan juga  area general cargo & curah kering seluas 8Ha.

Kemudian untuk superstruktur yang ada di KTMT, sambung Zilka, kita memiliki 8 unit Automated Rubber Tyred Gantry Crane (ARTGC), 21 unit terminal tractor, 1 unit reach stacker, dan 1 unit forklit. Dimana alat superstruktur tersebut sudah terintegrasi dengan terminal operating system (TOS) dan kegiatan bongkar muat container lewat kereta api.

“ARTGC itu adalah alat utama untuk melayani pengangkutan dan perpindahan petikemas di dalam block lokasi penyimpanan petikemas maupun dari dan ke truk, atau sebaliknya. ARTG ini juga dioperasikan secara otomatis di dalam ruang kontrol. Berbeda dengan RTG yang masih dioperasikan oleh operator di lapangan,” terang Zilka.

Sebelumnya Marketing Manager PT PMT, Harman Simbolon berharap, dengan mulai beroperasinya KTMT, agar kiranya semua BUMN yang ada dapat saling bersinergi dengan mulai beroperasinya KTMT. Karena menurutnya, hal tersebut bertujuan untuk kemajuan bersama. “Gimana kita bisa maju, kalau tidak saling bersinergi. Untuk BUMN ini juga sebenarnya kenapa kita surati, karena secara existing mereka belum mengetahui keberadaan kita disini. Makanya kita menerapkan sistem jemput bola. Saya sangat setuju sekali jika ada saling sinergitas dari sesama BUMN ini,” harapnya.

Harman pun menegaskan bahwa sebenarnya yang harus diingatkan kembali adalah soal keberadaan mereka di Kuala Tanjung. Terlebih lagi jika ada imbauan dari Gubernur ataupun Wakil Gubernur kepada para pengusaha untuk menggunakan Pelabuhan Kuala Tanjung ini. Sebab menurutnya, para pelaku usaha dan BUMN secara existing belum mengetahui keberadaan KTMT yang sudah beroperasional.

Maka dari itu, segabai anak perusahaan dari PT Pelindo I, PT PMT saat ini menerapkan sistem jemput bola untuk menarik para pengusaha agar bisa melirik keberadaan KTMT. Selain itu, juga perlu dilakukan solialisasi terkait keberadaan dari KTMT tersebut. (*)