Senin, 9 December 2019

Kesehatan Hewan Qurban Sumut Terjamin


#ferry, medan
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Sumatera Utara (Provsu), drh Mulkan Harahap MSi, menjamin kesehatan hewan untuk qurban di wilayah ini.

“Kita selalu memeriksa kesehatan hewan sekaligus mengawasinya secara rutin,” tegasnya kepada wartawan di Kantor DKPP Provsu, kawasan Jalan Gatot Subroto Medan, Senin (14/8/2017).

Ia mengemukakan, sejumlah upaya dilakukan untuk menghadapi qurban. Diantaranya, melakukan pengawasan sebelum hingga sesudah pemotongan hewan qurban. Sebelum pemotongan, kata Mulkan, selain dari sisi kesehatan, usia dan fisik hewan untuk qurban juga tidak luput dari perhatian.

“Sesuai ketentuan, untuk kambing dan domba, harus berusia minimal di atas satu tahun. Sedangkan untuk sapi minimal usianya di atas dua tahun,” papar Mulkan lantas menambahkan, pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) telah mengirimkan surat edaran kepada kabupaten/kota tentang pengawasan terhadap hewan qurban itu.

Mulkan memperkirakan, jumlah hewan qurban di Sumut pada 2017 mengalami kenaikan dikisaran 5-10% dari tahun sebelumnya yang mencapai 48.075 ekor. “Tahun 2016, hewan qurban sapi di Sumatera Utara sebanyak 30.055 ekor, kambing 11.907 ekor, domba 5.318 ekor dan kerbau sebanyak 795 ekor,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, pihaknya mengimbau panitia pemotongan hewan qurban untuk menggunakan plastik transparan yang bukan berasal dari bahan daur ulang. Tak hanya itu, Mulkan juga menyarankan agar tidak mencampurkan daging dan bagian dalam hewan qurban dalam satu plastik sebelum dibagikan kepada para penerima.

“Bagian dalam hewan, istilahnya jeroannya itu berpotensi mengandung bibit penyakit, meski telah kita periksa kesehatan hewan. Dikhawatirkan, kalau dicampur ke daging, maka membahayakan kesehatan,” sebutnya.

Ia juga berharap kepada para juru sembelih (tukang jagal, red) untuk tidak menganiaya hewan qurban saat hendak meyembelih. “Hindarkan membanting hewan qurban karena akan menimbulkan memar di tubuh hewan qurban. Kemudian gunakan pisau atau parang tajam agar hewan tidak tersiksa,” urainya.

Sementara, Kepala Seksi Higinietas dan Sanitasi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh Hendra Marbun, yang mendampingi Mulkan, menambahkan, pasokan hewan qurban di Sumut berasal dari berbagai kabupaten di Sumut. “Pasokan hewan terbesar dari Langkat dan Deliserdang. Semua hewan qurban berasal dari lokal, tidak ada yang impor,” ujarnya.

Ia mengemukakan, pemeriksaan kesehatan terhadap hewan, termasuk untuk qurban tergolong ketat. Beberapa bulan sebelum pelaksanaan qurban, para peternak dan pedagang diwajibkan menghubungi petugas kesehatan ternak di wilayahnya masing-masing. Setelah diperiksa, lanjutnya, para peternak mendapatkan surat sehat untuk hewan yang hendak dijual atau pun dipotong. “Setiap hewan qurban memiliki selembar surat sehat. Untuk mengurusnya tidak dipungut biaya apapun,” tandasnya.***

Teks Foto: Kabid Keswan DKPP Provsu, drh Mulkan Harahap MSi (kanan) didampingi Kepala Seksi Higienitas dan Sanitasi, drh Hendra Marbun, memberikan keterangan seputar kesehatan hewan qurban di Sumut, Senin (14/8/2017) di Kantor DKPP Provsu kawasan Jalan Gatot Subroto Medan. Foto Fey