Jumat, 16 November 2018

Bisnis Bordir tak Pernah Sepi


#mahbubah, medan
Mendengar kata bordir, sontak terbayang mesin yang digerakkan kaki sembari merangkai benang di atas kain. Berbagai motif pun tercipta.

Biasanya, bordir diaplikasikan di produk fashion, seperti baju, topi dan juga celana. Bordir juga diaplikasikan pada perlengkapan sekolah seperti simbol OSIS, nama, dan topi sekolah. Seiring perkembangan teknologi, mesin bordir manual tergantikan dengan komputer. Kecepatan dan kualitas yang bagus membuat mesin bordir komputer semakin diminati. Tak pelak, bisnis bordir komputer kian berkembang pesat. Pastinya, bisnis ini menjadi bisnis yang menjanjikan di tanah air. Selain Pulau Jawa, bisnis bordir komputer juga pesat di Kota Medan.

Pemilik Galery Sinar Lawang Bordir Komputer di Jalan Gedung Arca Gang Sehat No 47 Medan, Arif, mengaku, bisnis bordir komputer memang sangat menjanjikan. Sejak memulai bisnis ini pada tahun 2009, ia mampu bertahan. "Bisnis ini tidak pernah sepi orderan. Kalau pun orderan menurun, tetapi tidak pernah sampai gulung tikar karena peminatnya selalu tetap ada," paparnya kepada www.inimedanbung.com, beberapa waktu lalu.

Arif yang kini sudah memiliki dua mesin bordir komputer menyatakan orderan yang paling tinggi adalah bordir perlengkapan sekolah seperti simbol OSIS dan nama siswa. Untuk orderan perlengkapan sekolah ini, dalam satu hari produksinya bisa mencapai 2400 pcs. Hingga kini, orderan OSIS dan simbol sekolah masih menjadi langganannya.

Tingginya orderan bordir perlengkapan sekolah ini membuatnya harus merekrut karyawan, mulai karyawan untuk operator, gunting benang. Khusus menggunting bordiran, ia menggunakan pekerja lepas yang didominasi kaum ibu di sekitar galery. "Untuk bisa bersaing, saya lebih mengutamakan kualitas, cepat dan tepat waktu. Kalau kita lama mengerjakan orderan, konsumen bisa lari ke tempat lain. Harga, kita juga harus bersaing. Kalau bisa kita harus lebih murah dari yang lain sehingga kita tetap menjadi pilihan," paparnya.

Menariknya, Arif mengklaim, kesuksesan bisnis bordir bukan berada pada keahlian atau pun modal uang, melainkan orderan. "Modal utama itu adalah orderan. Mesin dan keahlian itu belakangan, karena usaha ini tergantung dari orderan. Sebaiknya jika hendak memulai bisnis ini harus sudah memiliki konsumen," sebutnya.

Selain menerima tempahan bordir OSIS, Arif yang sebelumnya hanya pekerja di salah satu usaha bordir di Jalan Bromo Gang Langgar Medan itu juga mengerjakan berbagai atribut/simbol TNI,Polri, ASN, dan simbol pakaian pegawai swasta. Pada kesempatan itu, Arif sangat berharap peranan pemerintah. "Kuliatas kita tidak kalah dengan Bandung dan Jakarta, hanya saja pemerintah daerah harus berperan, misalnya melakukan promosi,” ucapnya.

Jika bisnis ini diperhatikan, Arif mengaku akan tercipta peluang pekerjaan karena satu galery bordir bisa menyerap belasan hingga puluhan tenaga kerja. “Seharusnya, pemerintah membuat moto pakai lah produk produk daerah setempat, sehingga usaha lokal daerah kota Medan bisa terus terangkat," tegasnya.***

Teks Foto: Arif saat memperlihatkan salah satu hasil produk bordirannya, beberapa waktu lalu. Foto Mahbubah Lubis.