Selasa, 21 November 2017

Bio-Organik POMI Suburkan Lahan Pertanian


#ferry, deliserdang
Metode pemupukan Bio-Organik POMI mampu mengembalikan kesuburan lahan pertanian. Penegasan itu disampaikan Konsultan Teknis NPK Surplus, Ir John Albertson Sinaga, saat meninjau pertanaman jagung di Desa Klumpang Kecamatan Hamparan Perak, Minggu (2/11/2017). “Selain mengembalikan kesuburan tanah, POMI juga mampu meningkatkan hasil panen hingga mencapai 50 persen dari sebelumnya,” paparnya.

Ia menjelaskan, POMI merupakan pupuk bio-organik plus dalam bentuk cair yang diproduksi melalui proses bioteknologi bahan-bahan organik dengan menggabungkan ilmu teknologi pertanian dan mikrobiologi tanah. “Pupuk cair itu untuk memenuhi kebutuhan pertanian organik, baik di masa sekarang maupun mendatang,” tuturnya.

John mengaku telah menerapkan metode pemupukan Bio-Organik POMI di pertanaman jagung seluas 4 hektar (ha) di Desa Klumpang ini. “Atas persetujuan Bapak Yudianto, saya ‘mengawal’ pertanaman jagung seluas empat hektar dari 18 hektar yang dikelolanya,” ungkapnya.

Hasilnya tak sia-sia, penyakit bulai jagung yang selama ini dikhawatirkan petani, bisa teratasi. “Untuk meminimalisir penyakit bulai jagung, lahan harus bersih dari gulma dan drainase air harus lancar,” sebutnya.

Ia mengklaim, pertumbuhan tanaman jagung di areal seluas 4 ha tersebut sangat berbeda dengan yang lainnya. “Batangnya lebih kokoh dan warna daunnya juga lebih cerah,” tukasnya.

Hal itu dibenarkan Yudianto yang mendampingi John Albertson Sinaga. “Sekarang, penyakit bulai jagung sudah mulai teratasi dengan metode pemupukan bio-organik POMI,” ujarnya, lantas menambahkan, benih jagung yang ditanam dari varietas P32 dan P35.

Market Development Manager Indonesia PT DuPont Indonesia, Adhie Widiharto, mengapresiasi upaya yang dilakukan Yudianto dan John Albertson Sinaga dalam pertanaman jagung itu. “Kreativitas berbentuk inovasi ini yang seharusnya petani lakukan untuk meningkatkan produktivitas,” pujinya.***

Teks Foto: Konsultan Teknis, Ir John Albertson Sinagadan Yudianto, di antara pertanaman jagung yang ‘dikawal’ dengan metode pemupukan Bio-Organik POMI, beberapa waktu lalu. Foto Fey