Minggu, 8 December 2019

Tidak Campur Aduk Politik dan Profesionalisme

Sebaiknya Sumut Adaptasi Manajemen Air Bersih Batam


#jack, medan

Tidak mencampur adukkan Politik dan birokrasi berkepentingan telah memajukan pelayanan ketersedian air bersih bagi masyarakat dan industry bisnis di Pulau Batam, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI). Prinsip-prinsip manajemen tata kelola air bersih itu pula sebagai relevansinya dengan pengelolaan air limbah hingga ke daur ulang di Pulau Batam perlu diadaptasi oleh Pemprovinsi Sumatera Utara bersama Kabupaten Kota.

Adaptasi siatem dimaksud harus benar-benar objektif, profesional dan bebas dari berbagai kepentingan bersifat politis sehingga hasilnya diyakini Sumut mampu lebih baik dibanding Batam dalam pengelolaan air bersih dan limbah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Demikian salah satu kesimpulan hasil Komparatif Studi Banding Forum Wartawan Unit Pemprovsu yang difasilitasi Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut dalam rangka pengayaan wawasan wartawan ke Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP) Batam, Jumat (18/10/2019).

Kepala Bidang Pengelolaan Waduk, Hadjad Widagdo, serta Kepala Sub Direktorat Hubungan Masyarakat BP Batam, Yudi Haripurdaya meyakini Sumut bisa lebih baik jika mengadaptasi prinsip-prinsip manajemen yang diterapkan pihak BP Batam. “Tentunya hal itu mengingat modal dasar tata kelola air di Sumut lebih besar dan prospektik ketersediaan sumber air yang melimpah rnatif khususnya air sungai, air permukaan, air bawah tanah dan mata air yang baik secara kualitatif maupun kuantitatif,” ujar Hajad Widagdo meyakinkan.

Namun, lanjutnya, keunggulan komparatif sistem manajemen yang baik dan profesional BP Batam hanya mengandalkan profesioanl kemandirian tanpa politisasi disetiap jenjang pemimpinnya. Tetapi lebih kepada p-rofesional kemampuan melayani dan menyediakan air bersih bagi keperluan masyarakat dan seluruh Industry yang ada maupun menangani limbah secara berkualitas. Karena Batam tidak memiliki sumber mata air bersih, tidak ada sungai, namun pulau yang berada di antara samudera Hindia dan samudera pasifik tersebut berhasil mengelola air dengan waduk buatannya.

Dikatakan Hadjad bahwa Batam memang tidak ada yang memasok sumber air. Batam hanya mengharap hujan sebagai sumber air. Untungnya curah hujan di Batam juga tinggi, yakni sekitar 2.400 mm per tahun.

Namun setelah adanya perubahan cuaca, elnino dan lainnya curah hujan di Batam mulai berkurang. Waduk di Batam tidak mendapatkan air hujan rutin, sehingga BP Batam melakukan teknologi agar pasokan air di waduk terus tersedia termasuk rekayasa hujan buatan.

"Jadi waduk kita di sini juga waduk buatan. Tidak ada kita danau alami seperti yang ada di Sumut misalnya Danau Toba. Waduk buatan terbesar yang kita miliki adalah Waduk Duriangkang. Dulunya ini air asin. Hanya saja sekarang sudah ditetapkan sebagai sumber air baku terbesar, karena ini memang waduk yang paling besar di Pulau Batam," ucapnya.

Selain Waduk Duriangkang dengan volume 78.180.000 m3, penyediaan air bersih di Pulau Batam juga berasal dari Waduk Sei Nongsa dengan volume 720.000 m3, Waduk Sei Boloi 270.000 m3, Waduk Sei Ladi 9.490.000 m3, Waduk Sei Harapan dengan volume 3.600.000 m3 dan Waduk Muka Kuning dengan volume 12.270.000 m3.

Selain waduk-waduk ini BP Batam juga sedang merencanakan pembangunan waduk tambahan yakni Waduk Rempang yang nantinya dengan volume 5.166.400 m3, Waduk Sei Gong dan satu lagi Waduk Tembesi yang sampai saat ini juga belum beroperasi. Total kapasitas produksi air bersih mencapai 3.535 liter/detik, sementara operasional 3.199 liter/detik

"Ke depan juga kita sedang menjajaki pengelolaan air bersih dari air laut, storm water dan sea weard system. Ada beberapa negara sedang menawarkan investasinya salah satunya Korea. Hanya saja kajiannya masih kita pelajari," kata Hadjad.

Sebagai komitmen pengelolaan air bersih, BP Batam menyerahkannya kepada PT Adhya Tirta Batam (ATB). PT ini juga dinilai berhasil dalam mengelola air minum di Batam. Terbukti hingga saat ini sudah 95% yang mendapatkan manfaat air minum tersebut.

Pelanggannya selain masyarakat rumah tangga, juga pelanggan industri dan perkapalan. "Dan terbukti air yang tidak terpakai (air yang terbuang sia-sia karena kebocoran) di Pulau Batam sekitar 15-18 persen," sebutnya.

Terpenting, katanya, dalam pengelolaan air ini, BP Batam mengedepankan pelayanan bukan pendapatan. Mengingat ketersediaan air ini merupakan visi Pulau Batam. Investor yang ingin berinvestasi ke Batam juga melihat hal ini. "Karena ini sudah visi kita, masterplannya harus dibuat bagus. Uji kelayakannya benar-benar. Jangan sampai kita sudah membuat, diulang lagi," katanya.

Kunjungan itu dipimpin Kepala Bagian Pelayanan Media Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut, Harvina Zuhra, dan Ketua Forum Wartawan Pemprovsu, Khairul Muslim. Kunjungan diterima Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam yang diwakili . ***